Kultur Ibadah Khonghucu


Oleh WS. CH. Budhi S. Pribadi. SP

NEGARA kita Indonesia, yang kaya akan keragaman budaya keagamaan, termasuk agama Khonghucu, mempunyai budaya-ibadah, yang disebut ''Ji'' (baca Ci) meliputi tiga aspek, yang disebut ''San Cai/ Sam Kai''.

(1). Tian/ Thian - Tuhan Maha Pencipta (Supreme Creator) sebagai causa finalis dan prima causa/ akhir tujuan dan awal-mula hal, disebut ''Zhong-Shi/ Tiong Si''. Kepada-Nya umat beriman berkewajiban sujud beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, disebut ''Jing-Tian-Gong/ King Thi Kong.



(2). DI/TI - alam semesta (Universe) ciptaan dari Maha Kuasa Tuhan berwujud Hukum Tuhan Yang Abadi (Tian-Li/ Thian-Lee), setiap umat beriman wajib mensyukuri karunia Tuhan, dengan memuliakan malaikat bumi/ para suci (Shen Ming/Sien-Bing) yang disebut ''Bai-Shen-Ming/ Pai-Sien-Bing atau juga disebut ''Bai-Di-Shen/ Pai-Ti-Sien.


(3). REN/JIEN - kuasa Firman Tuhan (Tian-Ming/ Thian-Bing) menjadikan manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna, dan mewujudkan manusia mendapatkan badan dan lahiriahnya dari kedua orang tuanya, maka tiap insan berkewajiban senantiasa berbakti dan berdoa memuliakan leluhur, disebut ''Zun-Zu/ Cong -Cu''.
Dari pada-Nya, tiga aspek mewujud dalam Tiga Alam (San-Guan/Sam-Kuan) yaitu:

1. Alam Ke-Tuhanan (Tian-Guan/Thian-Kuan)

2. Alam semesta (Di-Guan/Ti-uan)

3. Alam Kemanusiaan (Ren-Guan/Jien-Kuan)


Tiga landasan ibadah dalam ritus kultur agama purba (Ru-Jiao /Ji-Kauw) diatas sudah ada ejak 30 abad sebelum masehi, pada masa Baginda Nabi Purba (Fu-Xi/ Hok-Hi). Pertama menerima Wahyu Tuhan (Tian-Xi/ Thian-Ci) berupa ''Pesta Sungai Huang-He (He/Tu/Ho-Tu)'' merupakan spiritual - Guidance aspek ke-Esaan Tuhan (Monotheistic-Religion) yang bersumber dari kitab Wahyu Yi-Jing/ I-Ching.
Pada zaman perkembangan agama Purba, terdapat 3 (tiga) istilah tempat ibadah, yaitu:

1. JIAO/KAU, tempat ibadah sujud Ke-Hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

2. SHE/SIA, tempat ibadah kepada malaikat bumi.

3. ZU-MIAO/CO-BIO, tempat ibadah berdoa memuliakan leluhur, yang lasim di kenal dengan sebutan ''xiang-Hwee/Hio-Hwe (Altar keluarga)''.

Dan pada masa hidup nabi Kongzi (baca Kong-Ce) tahun 551-479 SM tempat ibadah sudah tidak lagi didasarkan status kebangsawaan, sesuai ajaran nabi Kongzi ''Bahwa dalam keagamaan, tidak ada perbedaan'' dan setelah dua tahun wafat nabi Kongzi, untuk memuliakan beliau, oleh Raja Muda Lui-Ai-Gong di bangun Kong Miao/ Khong-Bio (Klenteng Khonghucu) dan menjelang abad ke XX di jalan Kapasan No. 131 - Surabaya dibangun Klenteng Khonghucu, dengan nama ''Wen-Miao/Bun-Bio''.

- Ciri khas tempat ibadah ''Miao/Bio'' selalu ada altar-utama di paling depan, untuk sujud ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa (Tian Gong Dang/ Thian-Kong-Tang). Dan di belakang ruang induk, terdapat altar-altar para suci (Shen-Ming/ Sie-Bing), pada ritus altar selalu ada Arca-Suci (Jin-Shen/ Kim-Sim), atau berupa papan nama suci (Shen-Zhu/ Sien-Cu) di dalam rumah altar (Shen-Kan/Sien-Kam) berhuruf Tiong-Hoa. Ada ornamen berupa sepasang naga, dan burung phonik, hewan suci killin, kelelawar, kura-kura, dan setiap altar ada tempat penancapan dupa (Ziang-Lu/Hio-Low) dan minimal ada sepasang lilin berwarna merah, serta sarana sesajian kurban, memakai jenis hewan bernyawa, sapi, kambing, babi atau ayam, itik dan ikan yang disebut ''San-Shen/Sam-Sing''.

- Dalam 1 (satu) tahun terdapat 4 (empat) kali ritus utama kepada Tuhan, berdasarkan musim, yaitu:

1. Tanggal 8 malam 9 bulan-1 Imlek/ Yinli disebut ibadah besar Ci/Su.

2. Tanggal 5 bulan - 5 Imlek/Yinli disebut ibadah besar Yue/Yak.

3. Tanggal 15 bulan-8 Imlek/Yinli, disebut ibadah besar Chang/Siang.

4. Tanggal 21/22 bulan-12 Yang Lek/Yang-Li (22 Desember masehi) disebut ibadah besar Cin/Zheng tersurat dalam kitab suci Sanjak/Shi-Jing, bagian perlindungan Tuhan (Tian/Bao/Thian-Po).

Tempat ibadah Miao/Bio'' bagi komunitas setianya memiliki nilai religious wisdom, yang ikut membangun spektrum universal dalam kerukunan hidup budaya leluhur, dengan saling menghormati dan mendukung secara sosio-budaya dalam pola kehidupan sehari-hari melalui kebhinekaan menjalin keharmonisan, membina rasa toleransi, sesuai kutipan ayat suci kitab yang pokok ''Shi-Su/Su-Si'' bagian kitab Sabda-Suci/ Lun-Yu'' di Empat penjuru lautan, semuanya bersaudara/ Si-Hai-Zhi-Nei, Jie/-Ziong-di-Ye''.


Hanya di dalam kebajikan, Tuhan berkenan miliki yang satu, yaitu Kebajikan (Wie de Dong Tian, Xiang/You-Yi-De/ Wie Tik Tong Thian, Sian Yu Le Tik).

Sumber : http://www.meandconfucius.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar